23 April 2011 lalu, GH menyelenggarakan piknik bersama Agent of EcoCampus dengan agenda membuat Peta Hijau ITB. Sayang, karena long weekend hanya sedikit AoE yang hadir. Setelah berkumpul di lapangan SR, kegiatan dimulai dengan ice breaking lewat game perkenalan yang dipimpin oleh Aldi [AR '07] sebagai koordinator Ganesha Hijau.

Acara dilanjutkan oleh Rizki (TG 09), dengan penjelasan mengenai peta hijau dan ikon-ikon yang digunakan dalam pembuatan peta hijau.

Setelah penjelasan mengenai Peta Hijau kami pun mulai ‘menjelajahi’ ITB, mulai dari monumen Kubus. Banyak juga ya yang baru tahu kalau ternyata ada penanda gunung-gunung di sekitar Bandung di dekat monumen Kubus itu beserta informasi letak dan tingginya.

Kami mulai menyusuri bagian tengah ITB sambil mendengarkan sejarah dan ‘kisah’ di balik arsitektur ITB yang diceritakan Aldi sambil mencatat hal-hal menarik apa saja yang ditemukan sepanjang jalan yang mungkin bisa dimasukkan dalam Peta Hijau. Mungkin beberapa sudah banyak yang tahu ya, karena sudah ditulis di buku Mukaddimah PROKM/INKM/OSKM. Beberapa ‘kisah’ yang berhasil ‘dihimpun’ di antaranya:
Arsitek Gedung Sate dan Aula Barat & Timur adalah orang yang sama, arsitek Belanda bernama Henry Maclaine Pont

Gedung Sate, Taman Ganesha, serta ITB dibuat simetris terhadap Gunung Tangkuban Parahu.

Taman Ganesha adalah satu-satunya taman kota buatan Belanda di Bandung yang tidak dilewati sungai, karena sengaja dibuat cekung untuk menampung hujan.

Ada 3 zona di ITB, yaitu zona konservasi: gerbang depan–CC, zona peralihan; CC–tangga menuju perpustakaan, zona perkembangan; tangga menuju perpustakaan–gerbang belakang. Hal ini juga berpengaruh ke arsitektur bangunan-bangunan yang terdapat pada zona tersebut, misalnya, CC yang sebenarnya desainnya mengadaptasi desain gerbang ITB, dirancang sebagai gerbang kedua untuk memasuki zona peralihan.

Kelebihan dana saat membangun 4 Labtek digunakan untuk membangun gedung arsitektur

Pohon ‘entah-apa-namanya’ di antara CC dan labtek 5 daunnya bisa dimakan lho. Citarasanya sepat dan beraroma mangga.

Kalau ini semua pasti tahu: partitur orgel Indonesia Raya,  2 air mancur di Indonesia Tenggelam, titik gaung di Plaza Widya, dan double helix di Labtek Biru.

Ada kandang kelinci dan tikus percobaan di PAU.

Karena waktu yang terbatas maka pemetaan dilakukan bertahap, untuk minggu ini dilakukan pemetaan ITB bagian tengah terlebih dahulu, minggu-minggu berikutnya baru dilakukan pemetaan untuk zona-zona lainnya.

Setelah ‘menjelajahi’ ITB, kami pun mengunjungi Tempat Pengolahan Sampah ITB. Kalian tahu tidak lokasinya di mana? Ketika disurvey ternyata hanya 26% mahasiswa ITB yang tahu bahwa ITB mengolah sampahnya sendiri. Nah, kita semua sebagai warga kampus harus tahu sistem pengolahan sampah di ITB. TPS ITB terletak di kawasan Sabuga dan di TPS ini terdapat insinerator pembakar sampah serta pengolahan kompos. Pak Apep menjelaskan, awalnya sampah dari tempat-tempat sampah di ITB (yang 2 warna: hitam untuk sampah yang mudah membusuk, putih untuk sampah yang tidak membusuk) diangkut menggunakan mobil bak yang baknya sudah dipisahkan sesuai jenis sampahnya, kemudian dibawa ke TPS. Di TPS ini sampah anorganik dipisah lagi menjadi sampah bernilai ekonomis yang disisihkan untuk dijual dan sampah yang sudah tidak punya nilai ekonomis dibakar di incinerator dan abunya dijadikan bahan membuat batako, sementara sampah organik akan dihancurkan dan ditumpuk kemudian diberi mikroba dan zat-zat lainnya untuk dijadikan kompos. Selain itu, juga ada sampah kantin yang diletakkan dalam trash bag di dalam drum untuk membiakkan belatung yang bernilai ekonomis sebagai pakan bebek.

Ternyata, seluruh sampah yang kita hasilkan itu tidak ada yang sia-sia, semuanya memiliki nilai ekonomis masing-masing. Nah, sekarang tinggal kesadaran kita sebagai warga kampus saja untuk memilah sampahnya untuk meringankan kerja bapak-bapak di TPS ini, karena sebenarnya system pengolahan sampah di ITB sudah baik.

Piknik pun akhirnya ditutup dengan review dari peserta dan makan siang bersama (bawa sendiri-sendiri dong, biar mengurangi sampah) di lapangan sipil. Agenda-agenda menarik dari Ganesha Hijau juga telah menanti, di antaranya Lanjutan Pembuatan Peta Hijau tiap zona tiap minggu, Geotracking dari GEA, dan yang lain-lain, I’m super excited! Untuk Aldi, tetap semangat ya dalam menjalani tugas sebagai Koordinator Ganesha Hijau, karena ini bukanlah kewajiban, namun tanggung jawab kita bersama.

Sampai Jumpa di Piknik dan Forum selanjutnya. Salam lestari!


oleh: Lawinda Cempaka Nurti

Teknik Industri 2008